Minggu, 13 Desember 2015

Gambar dan Syair Penderitaan

Gambar Penderitaan

Bencana Alam Tsunami Terjadi Di Aceh
Sebelas tahun setelah tsunami menimpa Aceh pada 26 Desember 2004 dan menewaskan 167.000 orang, jalan dan jembatan telah dibangun kembali, berikut rumah-rumah di pantai, pohon-pohon telah tumbuh dan jutaan ton puing-puing yang menutupi wilayah ini telah hilang. Namun orang yang mengunjungi daerah ini untuk pertama kalinya, pengingat bencana itu seperti ada di mana-mana.
Sebuah patung ombak besar menandai Lambaro, salah satu dari empat kuburan massal, tempat 46.000 jenazah dikebumikan. Meja tamu hotel memasang foto kapal-kapal yang terdampar di lapangan parkir. Kubah sebuah masjid, yang terlempar dari bangunan aslinya yang berjarak 1,6 kilometer, tergeletak di antara sawah yang hijau.
Aliran air mengaliri dinding menyerupai gua di Museum Tsunami, yang berfungsi sebagai sebuah memorial dan tempat evakuasi, dengan bukit kecil yang menawarkan tempat perlindungan jikalau ada tsunami lagi. Pusat museum itu adalah atrium yang terangkat di atas taman, berhiaskan kata "Perdamaian" dan bendera-bendera negara-negara yang memberikan bantuan.
Barang-barang yang dipamerkan menjelaskan bagaimana masyarakat bergotong royong untuk membangun kembali, dan bagaimana provinsi yang suatu kali menghadapi konflik bersenjata itu bahkan menemukan jalan untuk berdamai setelah bencana.

Syair Penderitaan

‘Tanah Air Mata’ - Sutardji Calzoum Bachri (1991)

Sutardji Calzoum Bachri
Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami

di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana

bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Analisis

Puisi ini dituliskan Sutardji Calzoum Bachri menggambarkan penderitaan warga Riau karena adanya keserakahaan dari Pusat. Pemerintah pusat dengan sangat mudahnya mengambil segala apa yang ada di Riau, khususnya Sumber Daya Alam. Mereka mengambil itu semua tanpa mempertimbangkan perasaan rakyat Riau.
Puisi ini dituliskan Sutardji Calzoum Bahri seakan ini merupakan jeritan dan isi hati seluruh masyarakat Riau.

Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami

Sutardji menggunakan kata 'air mata' dengan makna sebenarnya. Seakan menggambarkan betapa perihnya masyarakat membangun sebuah dunia (khususnya Riau), dengan banyak airmata yang menetes ke tanah, menyimpulkan bahwa sudah banyak airmata yang tertetes ditanah, dan seolah-olah digambarkan bahwa tanah tersusun oleh airmata yang merupakan unsur paling banyak (majas Hiperbola).

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami

Bait ini menggambarkan betapa ironisnya fakta yang ada dimasyarakat. Dibalik semua kesuburan tanah yang ada tersimpan semua penderitaan masyarakat. Seolah membandingka antara dua hal sangat sangat berbeda 180 derajat. Antara langit dan bumi misalnya.
Puisi ini seakan berisikan sindiran-sindiran untuk para penguasa, dalam hal ini pemerintah. Misalnya tanah subur dan gedung-gedung megah tersimpan perih dan derita masyarakat jelata yang tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada kuasa.

kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana

Pada awalnya, masyarakat memilih bungkam dan seakan tak mau melihat fakta yang terjadi. Namun pada akhirnya, masyarakat tak tahan lagi terhadap apa yang terjadi. Terasa sakit dihati masyarakat melihat para penguasa terus melakukan perbuatan-perbuatan yang menyekik masyarakat. Lara tak bisa sembunyi, Semakin besar dendam masyarakat pada pemerintah.

bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami

Masyarakat seakan sudah tak sabar lagi. Mereka menyerukan suara mereka. Mereka menyudutkan para penguasa dengan orasi-orasi mereka, dengan semua penderitaan yang pernah mereka terima. Dengan semua sejarah pahit yang mereka alami, mereka terus membuat hati para penguasa menjadi getir melihat apa yang ada dibalik sejarah kelam masyarakat Riau.

kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi

Masyarakat terus menyudutkan para penguasa karena semua perih dan derita yang dialami tidak bisa dihilangkan karena akan terus tersirat di nadi mereka. Para penguasa tidak bisa menutup mata terhadap apa yang terjadi dan menjadi sejarah kelam masyarakat, khususnya masyarakat Riau pada puisi ini.

menyerahlah pada kedalaman air mata

Menggambarkan tuntutan terakhir masayarkat kepada para penguasa agar mereka semua sadar terhadap apa yang terjadi atau para penguasa akan tenggelam dilautan airmata masyarakat dan mati. Masyarakat menuntut para penguasa untuk mulai memperhatikan semua penderitaan mereka.

Sumber :
http://www.voaindonesia.com/content/mengenang-tsunami-2004-di-banda-aceh/2551310.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar