Gambar Penderitaan
![]() |
| Bencana Alam Tsunami Terjadi Di Aceh |
Sebelas tahun setelah tsunami menimpa Aceh pada 26
Desember 2004 dan menewaskan 167.000 orang, jalan dan jembatan telah dibangun
kembali, berikut rumah-rumah di pantai, pohon-pohon telah tumbuh dan jutaan ton
puing-puing yang menutupi wilayah ini telah hilang. Namun orang yang
mengunjungi daerah ini untuk pertama kalinya, pengingat bencana itu seperti ada
di mana-mana.
Sebuah patung ombak besar menandai Lambaro, salah
satu dari empat kuburan massal, tempat 46.000 jenazah dikebumikan. Meja tamu
hotel memasang foto kapal-kapal yang terdampar di lapangan parkir. Kubah sebuah
masjid, yang terlempar dari bangunan aslinya yang berjarak 1,6 kilometer,
tergeletak di antara sawah yang hijau.
Aliran air mengaliri dinding menyerupai gua di
Museum Tsunami, yang berfungsi sebagai sebuah memorial dan tempat evakuasi,
dengan bukit kecil yang menawarkan tempat perlindungan jikalau ada tsunami
lagi. Pusat museum itu adalah atrium yang terangkat di atas taman, berhiaskan
kata "Perdamaian" dan bendera-bendera negara-negara yang memberikan
bantuan.
Barang-barang yang dipamerkan menjelas kan bagaimana
masyarakat bergotong royong untuk membangun kembali, dan bagaimana provinsi
yang suatu kali menghadapi konflik bersenjata itu bahkan menemukan jalan untuk
berdamai setelah bencana.
Syair Penderitaan
‘Tanah Air Mata’ - Sutardji Calzoum Bachri (1991)
![]() |
| Sutardji Calzoum Bachri |
Tanah
airmata tanah tumpah dukaku
mata
air airmata kami
airmata
tanah air kami
di
sinilah kami berdiri
menyanyikan
airmata kami
di
balik gembur subur tanahmu
kami
simpan perih kami
di
balik etalase megah gedung-gedungmu
kami
coba sembunyikan derita kami
kami
coba simpan nestapa
kami
coba kuburkan duka lara tapi perih tak bisa sembunyi
ia
merebak kemana-mana
bumi
memang tak sebatas pandang
dan
udara luas menunggu
namun
kalian takkan bisa menyingkir
ke
manapun melangkah
kalian
pijak airmata kami
ke
manapun terbang
kalian
kan hinggap di air mata kami
ke
manapun berlayar
kalian
arungi airmata kami
kalian
sudah terkepung
takkan
bisa mengelak
takkan
bisa ke mana pergi
menyerahlah
pada kedalaman air mata
Sajak-sajak
Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
Analisis
Puisi
ini dituliskan Sutardji Calzoum Bachri menggambarkan penderitaan warga Riau
karena adanya keserakahaan dari Pusat. Pemerintah pusat dengan sangat mudahnya
mengambil segala apa yang ada di Riau, khususnya Sumber Daya Alam. Mereka
mengambil itu semua tanpa mempertimbangkan perasaan rakyat Riau.
Puisi
ini dituliskan Sutardji Calzoum Bahri seakan ini merupakan jeritan dan isi hati
seluruh masyarakat Riau.
Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
Sutardji
menggunakan kata 'air mata' dengan makna sebenarnya. Seakan menggambarkan
betapa perihnya masyarakat membangun sebuah dunia (khususnya Riau), dengan
banyak airmata yang menetes ke tanah, menyimpulkan bahwa sudah banyak airmata
yang tertetes ditanah, dan seolah-olah digambarkan bahwa tanah tersusun oleh
airmata yang merupakan unsur paling banyak (majas Hiperbola).
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah
gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
Bait
ini menggambarkan betapa ironisnya fakta yang ada dimasyarakat. Dibalik semua
kesuburan tanah yang ada tersimpan semua penderitaan masyarakat. Seolah
membandingka antara dua hal sangat sangat berbeda 180 derajat. Antara langit
dan bumi misalnya.
Puisi
ini seakan berisikan sindiran-sindiran untuk para penguasa, dalam hal ini
pemerintah. Misalnya tanah subur dan gedung-gedung megah tersimpan perih dan
derita masyarakat jelata yang tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada kuasa.
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara tapi
perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
Pada
awalnya, masyarakat memilih bungkam dan seakan tak mau melihat fakta yang
terjadi. Namun pada akhirnya, masyarakat tak tahan lagi terhadap apa yang
terjadi. Terasa sakit dihati masyarakat melihat para penguasa terus melakukan
perbuatan-perbuatan yang menyekik masyarakat. Lara tak bisa sembunyi, Semakin
besar dendam masyarakat pada pemerintah.
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
Masyarakat
seakan sudah tak sabar lagi. Mereka menyerukan suara mereka. Mereka menyudutkan
para penguasa dengan orasi-orasi mereka, dengan semua penderitaan yang pernah
mereka terima. Dengan semua sejarah pahit yang mereka alami, mereka terus
membuat hati para penguasa menjadi getir melihat apa yang ada dibalik sejarah
kelam masyarakat Riau.
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
Masyarakat
terus menyudutkan para penguasa karena semua perih dan derita yang dialami
tidak bisa dihilangkan karena akan terus tersirat di nadi mereka. Para penguasa
tidak bisa menutup mata terhadap apa yang terjadi dan menjadi sejarah kelam
masyarakat, khususnya masyarakat Riau pada puisi ini.
menyerahlah pada kedalaman air mata
Menggambarkan
tuntutan terakhir masayarkat kepada para penguasa agar mereka semua sadar
terhadap apa yang terjadi atau para penguasa akan tenggelam dilautan airmata
masyarakat dan mati. Masyarakat menuntut para penguasa untuk mulai
memperhatikan semua penderitaan mereka.
Sumber
:
http://www.voaindonesia.com/content/mengenang-tsunami-2004-di-banda-aceh/2551310.html



